LINGKARAN PENA

mahluk tuhan paling sexy mixx

Tuesday, September 10, 2013

Tahap Embrio, Pertumbuhan Dan Perkembangan Hewan



Kita ketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan saling berhubungan. Pertumbuhan adalah penambahan sel-sel dan bobot tubuh yang bersifat irreversible. Perkembangan adalah pertumbuhan yang disertai dengan organogenesis dan diferensiasi struktur serta fungsi.
Tahap Embrio
Tahap embrio dimulai dari proses fertilisasi (penyatuan sel telur dan sperma), kemudian terbentuk zigot yang mengalami proses pembelahan. Tahap embrio dikelompokkan menjadi beberapa fase, yaitu fase morula, fase blastula, fase gastrula, fase diferensiasi, serta organogenesis. Kita akan membahas setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya berikut ini.

Fase Morula
Pada fase ini zigot mengalami pembelahan. Pembelahan sel dimulai dari satu menjadi dua, dua menjadi empat, dan seterusnya. Pada saat pembelahan sel terjadi pembelahan yang tidak bersamaan. Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub fungsional atau kutub hewan (animal pole) dan kutub vegetatif (vegetal pole). Antara dua kutub ini dibatasi oleh daerah sabit kelabu (grey crescent).setelah pembelahan terjadi pada bagian vertikal, kemudian dilanjutkan dengan bagian horizontal yang membelah secara aktif sampai terbentuk 8 sel. Pembelahan sel berlanjut sampai terbentuk 16-64 sel. Embrio yang terdiri dari 16-64 sel inilah yang disebut morula.
Fase Blastula
Pada fase blastula terjadi pembagian sitoplasma ke dalam dua kutub yang dibentuk pada fase morula. Konsentrasi sitoplasma pada kedua kutub tersebut berbeda. Pada kutub fungsional terdapat sitoplasma yang lebih sedikit dibandingkan dengan kutub vegetatif. Konsentrasi sitoplasma yang berbeda menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan hewan selanjutnya. Pada fase ini kutub fungsional dan kutub vegetatif telah selesai dibentuk. Hal ini ditandai dengan dibentuknya rongga di antara kedua kutub yang berisi caftan dan disebut blastosol. Embrio yang memiliki blastosol disebut blastula.
Proses pembentukan blastosol disebut blastulasi. Setelah fase blastula selesai ditanjutkan dengan lase gastrula.
Fase Gastrula
Pada fase gastrula, embrio mengalami proses diferensiasi dengan mulai menghilangkan blastosol. Sel-sel pada kutub fungsional akan membelah dengan cepat. Akibatnya, sal-sel pada kutub vegetatif membentuk lekukan ke arah dalam (invaginasi). Invaginasi akan membentuk dua formasi, yaitu lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm).

Bagian ektoderm akan menjadi kulit dan bagian endoderm akan menjadi berbagai macam saluran. Bagian tengah gastrula disebut dengan arkenteron. Pada perkembangan selanjutnya, arkenteron akan menjadi saluran pencernaan pada hewan vertebrata dan beberapa invertebrata. Bagian luar yang terbuka pada gastrula menuju arkenteron disebut dengan blastofor. Bagian ini dipersiapkan menjadi anus dan pada bagian ujung akan membuka dan menjadi mulut. Pada fase ini akan terjadi lanjutan diferensiasi sebagian endoderm menjadi bagian mesoderm. Pada akhir fase gastrula telah terbentuk bagian endoderm, mesoderm, dan ektoderm.

Berdasarkan jumlah lapisan embrionalnya, hewan dikelompokkan menjadi dua, yaitu hewan diploblastik dan hewan triploblastik. Hewan diploblastik memiliki dua lapisan embrional, yaitu ektoderm dan endoderm. Contoh hewan diploblastik adalah Coelenterata (hewan berongga). Hewan triploblastik memiliki tiga lapisan embrional, yaitu ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Mesoderm selalu terletak di antara ektoderm dan endoderm.

Hewan triploblastik dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan ada tidaknya selom (berasal dari kata coelom = ruangan yang berongga) dan bagaimana selom tersebut dibentuk selama embriogenesis. Kelompok hewan tersebut yaitu aselomata, pseudoselomata, dan selomata (euselomata). Hewan aselomata tidak memiliki selom, contohnya cacing pipih (Platyhelminthes). Hewan pseudoselomata memiliki selom semu, contohnya cacing tanah. Hewan selomata memiliki selom sesungguhnya, misalnya manusia.

Diferensiasi dan Organogenesis
Pada Ease ini mulai terjadi diferensiasi dan organogenesis pada struktur dan fungsi sel untuk menjadi jaringan yang spesifik. Proses ini dikendalikan oleh faktor hereditas (gen) yang dibawa pada saat terjadi pembentukan kutub fungsional dan kutub vegetatif. Pada akhirnya masing-masing bagian endoderm, mesoderm, dan ektoderm akan mengalami diferensiasi menjadi organ-organ sebagai berikut.
• Ektoderm akan mengalami diferensiasi menjadi epidermis, rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat, email gigi, sistem saraf, dan saraf reseptor.
• Mesoderm akan mengalami diferensiasi menjadi tulang, jaringan ikat, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi misalnya duktus deferens, dan sistem reproduksi.
• Endoderm akan mengalami diferensiasi menjadi jaringan epitel pencernaan, sistem pernapasan, pankreas dan hati, serta kelenjar gondok.

Dalam proses diferensiasi dan organogenesis, bagian yang berdekatan sating mempengaruhi. Sebagai contoh, bagian mesoderm akan mempengaruhi ektoderm dalam diferensiasi untuk perkembangan alat gerak, yaitu sebagian berasal dari set ektoderm dan sebagian dari mesoderm. Setelah tahap embrio selesai, embrio yang disebut janin siap dilahirkan.

MODEL SILABUS DAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SD/MI

MODEL SILABUS DAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SD/MI

I. Pendahuluan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah salah satu aspek pengembangan kurikulum yang bertujuan untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu. Fokus hasil pendidikan yang bermutu dapat diidentifikasi dari keadaan siswa yang sehat, mandiri, berbudaya, berakhlak mulia, beretos kerja, berpengetahuan, dan menguasai teknologi, serta cinta tanah air.
Paradigma berpikir demikian menjiwai kurikulum nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia yang searah dengan jiwa perubahan yang mendasar dalam pengelolaan pendidikan. Implementasinya, daerah/sekolah dapat secara efektif menjabarkan kurikulum nasional tersebut sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah/sekolah.
Kurikulum nasional mata pelajaran bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa. Maksudnya, belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Itulah sebabnya, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi para siswa dituntut supaya terbuka terhadap berbagai informasi yang ada di sekitarnya dan dapat menyaring hal-hal yang ada manfaatnya, belajar mandiri, serta menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya
Secara gamblang, kurikulum nasional yang berbasis kompetensi ini diharapkan agar (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsa sendiri, (2) guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan beragam kegiatan berbahasa dan sumber belajar, (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi
lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya, (4) orang tua dan masyarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia, dan (6) sekolah dapat menentukan bahan dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerahnya.
Sesungguhnya keenam harapan di atas, esensinya bermuara dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu (1) siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami bahasa dan sastra Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa dan sastra Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual Indonesia.
2. Kompetensi Umum Bahasa Indonesia
Ada enam aspek kompetensi umum yang harus dimiliki siswa SD/MI dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut.
1. Kemampuan Mendengarkan
Para siswa diharapkan berdaya tahan dalam berkonsentrasi mendengarkan sampai sembilan puluh menit. Mereka harus mampu memahami dan peka terhadap gagasan, pandangan, dan perasaan orang lain dalam uraian, khutbah, pidato, ceramah, dialog, dan pertunjukan serta memberikan respon dengan mengembangkan gagasan, pandangan, dan perasaan orang lain itu.
2. Kemampuan Berbicara
Para siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, dan gagasan dalam bentuk berita, pengumuman, pidato, wawancara, cerita, uraian proses, dan penjelasan peristiwa.
3. Kemampuan Membaca
Para siswa diharapkan memiliki kemampuan membaca untuk mendapatkan informasi tertentu secara cepat; menentukan gagasan utama secara cepat; menyerap gagasan dan peristiwa; mengidentifikasi ciri-ciri utama; menyeleksi frasa, kalimat, informasi yang relevan untuk mendukung pandangan; merespon karangan teks dan menggunakannya untuk membuat inferensi dan deduksi.
4. Kemampuan Menulis
Para siswa dituntut untuk memiliki kemampuan menulis karangan dengan menggunakan kosakata yang tepat dan sesuai, menggunakan ejaan dan tanda baca secara tepat, dan menggunakan kalimat majemuk setara dan bertingkat.
5. Kemampuan Memahami dan Menggunakan
Para siswa harus memiliki kemampuan untuk memahami dan menggunakan kalimat lengkap dan tidak lengkap; kalimat dengan hubungan pertentangan; kalimat perluasan dengan keterangan saling, berbandingan, sebab-akibat; imbuhan pembentuk kata benda dan pembentuk kata sifat; kalimat perbadingan; kata kerja berpartikel; pedoman EYD; paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumntasi; makna kata denotasi dan konotasi; perluasan dan penyempitan makna, istilah idiom, dan majas metafora, hiperbola, personifikasi, eupemisme; bentuk ulang kata benda, kata kerja dan kata sifat.
6. Kemampuan Mengapresiasi dan Berekspresi Sastra
Melalui kegiatan mendengarkan, menonton, membaca, dan melisankan hasil sastra berupa dongeng, puisi, dan drama pendek; memahami pengertian dan cirri-ciri hasil sastra, serta menuliskan karya cipta dalam bentuk prosa dan puisi.
3. Materi Pokok
Adapun materi pokok bahasa Indonesia untuk SD/MI mencakup enam aspek, yaitu (1) mendengarkan, (2) berbicara, (3) membaca, (4) menulis, (5) sastra, dan (6) kebahasaan.
Materi pokok mata pelajaran bahasa Indonesia disajikan dalam tiga komponen utama, yaitu (1) kompetensi dasar, (2) materi pokok, dan (3) indikator pencapaian hasil belajar.
Kompetensi dasar merupakan uraian yang memadai atas kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi lisan (mendengarkan dan berbicara) dan tulisan (membaca dan menulis) sesuai dengan kaidah bahasa dan sastra Indonesia, serta mengapresiasi karya sastra. Kompetensi dasar ini dicapai melalui proses kemahiran yang dilatihkan dan dialami.
Materi pokok merupakan struktur keilmuan bahasa dan sastra Indonesia sebagai alat komunikasi-yang dapat berupa keterampilan berbahasa, dan pengertian konseptual-yang harus dimiliki dan dikembangkan pada diri siswa.
Indikator pencapaian hasil belajar merupakan uraian kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran yang dimaksudkan adalah kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa dan sastra Indonesia, baik lisan maupun tulisan. Hal itu bersandar pada hakikat belajar bahasa, yaitu belajar berkomunikasi.
Sebagai salah satu ilustrasi, di bawah ini disajikan keruntunan antara kompetensi dasar, materi pokok dan idikator pencapaian hasil belajar Bahasa dan sastra Indonesia, di kelas 1 Semester 1.
Kompetensi Dasar, Materi Pokok,
dan Indikator Pencapaian Hasil Belajar
Kelas 1 Semester 1
Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator Pencapaian Hasil Belajar Bercerita
-Pengalaman yang paling mengesankan
- Siswa dapat menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan
- Pilihan kata
menggunakan pilihan kata dan kalimat yang menarik sehingga pendengar bisa membayangkan suasana yang diceritakannya. Berwawancara
- Kalimat tanya
- Bahasa yang sesuai dengan konteks dan santun berbahasa
- Siswa dapat menyiapkan daftar pertanyaan dan melakukan kegiatan bertanya dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks dan santun berbahasa untuk menggali informasi secara mendalam Menguasai dan menggunakan berbagai imbuhan
Imbuhan me-, di-, -kan,
-i, me-kan
- Siswa dapat memahami dan menggunakan imbuhan dalam berbagai teks baik lisan maupun tulisan Membaca nyaring
- Teks percakapan
- Lafal dan intonasi
- Siswa dapat membaca teks percakapan bersama teman dengan memperhatikan pengucapan lafal dan intonasi Menceritakan kembali
Puisi
- Siswa dapat menceritakan kembali isi dan makna puisi sederhana dengan menggunakan kata-kata sendiri Menerapkan kaidah pembentukan kalimat
- Kalimat berita negatif
- Siswa dapat membuat kalimat berita negatif dalam paragraf Menyampaikan pesan/informasi
- Informasi dari berbagai media
- Siswa dapat menyampaikan informasi dari berbagai media yang sudah diringkas dengan menggunakan kalimat yang singkat, padat, dan mudah dipahami Membaca memindai (Scanning)
- Kamus atau ensiklopedia
- Kata dan makna kata
- Siswa dapat menentukan kata tertentu dan maknanya serta dapat menjelaskannya kepada orang lain
Mendeskripsikan
Watak seseorang, misalnya pemarah, baik, murah hati
- Siswa dapat menguraikan bagian dan rincian watak seseorang dengan menggunakan bahasa yang runtut Menguasai dan menggunakan idiom dan peribahasa
- Idiom dan peribahasa
- Siswa dapat menggunakan idiom dan peribahasa dalam teks, baik lisan maupun tulisan Menerapkan kaidah pembentuk kalimat
- kalimat larangan
- Siswa dapat menyusun kalimat larangan dalam sebuah dialog, baik lisan maupun tulisan Menguasai dan menggunakan kata sapaan
- Kata sapaan
- Menggunakan kata sapaan dalam kalimat berita atau tanya Menguasai dan menggunakan pilihan kata
- Pilihan kata
- Siswa dapat menggunakan kata yang tepat (diksi) untuk mengungkapkan maksud tertentu Membaca cepat
- Teks dengan kecepatan yang sudah ditentukan (satu menit membaca 200-250 kata)
- Siswa dapat menentukan gagasan pokok dan dapat menceritakan kembali secara lengkap Membaca dalam hati (intensif)
- Tabel/gambar/diagram
- Siswa dapat menjelaskan isi tabel, gambar, diagram atau mengajukan pertanyaan
4. Model Kompetensi Dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang dimuat dalam kurikulum berbasis kompetensi merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh sebab itu, daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabung atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi, dan kondisi setempat. Hal ini sesuai dengan PP 25 tahun 2000, Pasal 2 ayat 2, yang mengatakan bahwa wewenang pusat (Depdiknas) dalam pendidikan dan kebudayaan adalah menetapkan standar kompetensi siswa dan warga belajar
serta pengaturan kurikulum nasional. Di samping itu melakukan penilaian hasil belajar secara nasional dan pedoman pelaksanaannya. Sedangkan wewenang daerah, khususnya kabupaten/kota adalah mengembangkan standar kompetensi siswa TK, SD, SLTP, SMU, dan SMK atas dasar kompetensi minimal yang ditetapkan pusat.
Adapun kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, sastra, dan kebahasaan. Aspek-aspek tersebut harus menempati posisi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu sebagaimana tampak pada gambar di bawah ini.
Berbicara
(berdiskusi)
Mendengarkan Tema Menulis
(Lingkungan) (laporan)
Membaca
Dalam hubungannya dengan pembelajaran sastra perlu diperhatika mengenai kompetensi dasar yang tertuang dalam tujuan pembelajaran sastra yaitu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Substansinya agar siswa dapat menghargai kesusastraan bangsa sendiri serta dapat menghayati secara langsung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Itulah sebabnya, pada pelaksanaannya pembelajaran sastra harus diikuti dengan mewajibkan siswa untuk membaca karya sastra terpilih. Perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra harus disajikan secara seimbang. Dalam hal ini perlu diingat bahwa bahan pembelajaran sastra dapat dikaitkan dengan tema dan dapat pula tidak.
Adapun langkah-langkah umum yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran sastra (misalnya Pembelajaran Membaca Nyaring Puisi) adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan Awal
(1) Tegur sapa, mengabsen,
(2) Apersepsi
(3) Pretest
(4) Memotivasi siswa
b. Kegiatan Inti
(1) Membaca dalam hati suatu sajak dari majalah/buku bacaan
(2) Mendengarkan contopembacaan sajak oleh guru
(3) Menjawab pertanyaan mengenai isi atau unsur-unsur sajak
(4) Mencatat gaya bahasa yang ada dalam sajak
(5) Menggunakan gaya bahasa yang sama dalam kalimat lain
(6) Berlatih membacakan sajak
(7) Bertanya jawab mengenai sajak
(8) Menyimpulkan bahan pembelajaran
c. Kegiatan Akhir
(1) Menegaskan bahan pembelajaran
(2) Postest
(3) Menjelaskan kegiatan lanjutan termasuk penugasan
Selanjutnya, sebagai gambaran umum di bawah ini disajikan sebuah contoh format penyajian silabus.
FORMAT I
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar
Kelas/Semester : V/2
Alokasi Waktu : 2 Jam Pelajaran
Kompetensi
Dasar
Materi
Pokok
Hasil
Belajar
Indikator Pencapaian Hasil Belajar
Pembelajaran
Mendengarkan hasil sastra prosa
Pembacaan cerita pendek
Mampu menunjukkan tokoh-tokoh cerita, memaparkan alur, dan memahami amanat dalam cerita pendek Dapat menunjukkan tokoh-tokoh cerita pada cerita pendek yang didengarkannya Dapat memaparkan alur cerita pendek yang didengarkannya Dapat menyebutkan amanat yang terdapat pada cerita pendek yang didengarkannya Mendengarkan pembacaan cerita pendek yang dituturkan guru Menunjukkan dan mendiskusikan tokoh-tokoh cerita pendek yang didengarkannya Memaparkan alur cerita pendek yang didengarkannya Menyebutkan dan mendiskusikan amanat yang terdapat pada cerita pendek yang didengarkannya
FORMAT 2
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar
Kelas/Semester : V/2
Alokasi Waktu : 2 Jam Pelajaran (1 pertemuan)
Kompetensi Dasar:
Materi Pokok:
Hasil Belajar:
Indikator Pencapaian Hasil Belajar:
Indikator:
Mendengarkan hasil sastra prosa
Pemahaman isi cerita pendek
Mampu menunjukkan tokoh-tokoh cerita, memaparkan alur, dan memahami amanat pada cerita pendek
1. Dapat menunjukkan tokoh-tokoh cerita pada cerita pendek yang didengarkannya
2. Dapat memaparkan alur cerita pendek yang didengarkannya
3. Dapat menyebutkan amanat yang terdapat pada cerita pendek yang didengarkannya
1. Dapat menyebutkan tokoh protagonis dan antagonis dalam cerita pendek
2. Dapat menyebutkan karakteristik atau perwatakan tokoh protagonis dan antagonis dalam cerita pendek
3. Dapat menunjukkan unsur-unsur pmbentuk alur dalam cerita pendek
4. Dapat memaparkan alur cerita dalam cerita pendek
5. Dapat menyebutkan amanat ayng terdapat dalam cerita pendek.
LANGKAH PEMBELAJARAN
Pemanasan-Apersepsi (5-10%) Guru memperlihatkan cerita pendek hasil karya murid SD Guru membagikan poto kopi cerpen hasil karya murid SD kepada murid-murid Guru menceritakan ringkasan isi cerita pendek kepada murid-murid
Eksplorasi (25-30%) Murid dikenalkan dengan hasil karya sastra Sunda jenis cerita pendek Murid mengingat-ingat kembali hasil karya sastra Sunda yang sejenis bentuknya dengan cerita pendek yang pernah dibaca, didengar/diketahui sebelumnya Guru menawarkan cara belajar yang diinginkan oleh murid
Konsolidasi Pembelajaran (35-40%) Murid mencari dan mencatat tokoh protagonis dan antagonis dari cerpen yang didengarkannya Murid mencatat karakteristik tokoh-tokoh cerita dalam cerita pendek yang didengarkannya Murid mencari dan mencatat unsur-unsur pembangun alur yang terdapat dalam cerpen yang didengarkannya Murid mencatat dan memaparkan alur cerita dari cerpen yang didengarkannya Guru menjelaskan seperlunya tentang pengertian tokoh protagonis dan antagonis, unsure-unsur pembangun alur, alur cerita, dan amanat cerita. Hal itu dilakukan apabila ada murid yang masih menemukan kesulitan dalam memahami isi cerita pendek yang didengarkannya.
Pembentukan Sikap dan Perilaku (10%) Murid membuat ringkasan dan alur cerita dari cerpen yang dibaca/didengarkannya Murid membuat analisis secara cermat untuk menentukan tokoh protagonis dan antagonis dari cerpen yang dibaca/didengarkannya Murid membuat deskripsi tentang unsur-unsur pembangun alur cerita (menentukan unsur konplik, pembayangan, dan suspense) Murid membuat catatan mengenai karakteristik (perwatakan) tokoh cerita, kemudian menyimpulkan tokoh cerita yang berwatak baik dan jahat Murid merumuskan amanat cerita pendek dari cerpen yang dibaca/didengarkannya Murid mendiskusikan unsur-unsur cerita pada cerpen kemudian saling mengoreksi rumusan pemikirannya masing-masing tentang unsur-unsur cerita yang dipahaminya.
Penilaian Formatif (10%) Berlatih mencari dan menentukan tokoh protagonis dan antagonis dalam cerita pendek Berlatih menunjukkan karakteristik tokoh cerita dalam cerita pendek Berlatih menemukan dan menyusun alur cerita yang dipahaminya dari ceita pendek Berlatih menunjukkan unsur-unsur pembangun alur cerita yang terdapat dalam cerita pendek Berlatih menganalisis dan merumuskan amanat yang dipahaminya dalam cerita pendek
SARANA DAN SUMBER BELAJAR
Sarana Pembelajaran Alat Peraga: Hasil karya sastra jenis cerita pendek Sumber Belajar: Buku teks, majalah, Koran
PENILAIAN
1. Tes Tertulis
Mengoreksi unsur-unsur cerita dalam sebuah cerita pendek, yaitu penokohan, alur, dan amanat cerita.
a. Sebutkan tokoh protagonis dan antagonis yang kamu temukan di dalam cerpen tersebut?
b. Tunjukkan unsur-unsur pembangun alur yang meliputi (1) konplik, (2) pembanyangan, dan (3) suspense yang ada dalam cerpen tersebut!
c. Bagaimanakah watak tokoh protagonis dan antagonis dalam cerpen tersebut?
d. Bagaimanakah alur cerita dalam cerpen tersebut?
e. Simpulkan, amanat yang tertuang di dalam cerpen tersebut!
2. Kinerja Performansi
Performansi yang diharapkan dari kinerja murid adalah sebagai berikut.
(Jawaban yang benar dan tepat dari murid mengenai hal-hal yang ditanyakan dalam tes tertulis)
3. Produk
Hasil pekerjaan murid berkaitan dengan pemahamannya tentang penokohan, alur, dan amanat dalam sebuah cerita pendek.
4. Tugas
Murid diberi tugas mencari cerita pendek dalam majalah, buku kumpulan cerpen, dan koran. Selanjutnya, murid menganalisis tokoh-tokoh cerita, alur cerita, dan amanat cerita dari cerpen yang dibacanya.
5. Portofolio
Guru mengadministrasi penilaian berdasarkan portofolio, yaitu mencatat dan menganalisis perkembangan kemampuan murid dalam belajar.
Mengetahui Guru Mata Pelajaran,
Kepala SD/MI,
NIP. NIP.
Demikianlah selayang pandang tentang model silabus dan perencanaan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi.
SOAL POSTEST SILABUS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PESERTA DIKLAT KBK DI PROVINSI BANTEN
Pilih jawaban yang benar dengan cara memberi tanda silang (X) pada lembar jawaban!
1. Menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kompetensi umum bahasa Indonesia yang harus dimiliki siswa mencakup . . . kemampuan.
a. tiga aspek b. empat aspek c. lima aspek d. enam aspek
2. Kompetensi umum (no. 1) di atas sebenarnya terintegrasi di dalam . . . kemampuan berbahasa.
a. tiga aspek b. empat aspek c. lima aspek d. enam aspek
3. Kompetensi dasar berbahasa Indonesia menurut KBK adalah
a. mendengarkan, berbicara, membaca, menulis
b. mengarang, membaca, bercerita, menyimak
c. berdialog, mendongeng, menulis, menyimak
d. bercakap-cakap, bermain peran, menulis sajak, membaca novel
4. Materi pokok bahasa Indonesia disajikan dalam tiga komponen, yaitu
a. standar kompetnsi, materi pokok, indikator
b. kompetensi dasar, materi pokok, indikator
c. materi pokok, TIU, TIK, TEK
d. TIU, TIK, standar kompetensi
5. Uraian yang memadai mengenai kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan pada KBK disebut . . .
a. materi pokok b. indikator
c. kompetensi dasar d. standar kompetensi
6. Struktur keilmuan bahasa dan sastra Indonesia sebagai alat berkomunikasi yang berupa keterampilan berbahasa dan konseptual yang harus dikuasai siswa, disebut . . .
a. materi pokok b. indikator
c. standar kompetensi d. kompetensi dasar
7. Pada prakteknya pembelajaran sastra Indonesia di dalam KBK adalah
a. Terintegrasi dalam keterampilan berbahasa
b. Terpisah dari keterampilan berbahasa
c. Menyatu dengan keterampilan membaca
d. Terpisah dari keterampilan menulis
8. Di dalam perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia menurut KBK itu terbagi menjadi . . . .kegiatan.
a. dua b. empat c. lima d. tiga
9. Kegiatan perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas . . . .
a. Kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir
b. Apresiasi, KBM, dan Postest
c. Pretest, KBM, dan Postest
d. Kegiatan awal, KBM, dan Postest
10. Pernyataan di bawah ini merupakan salah satu esensi pembelajaran bahasa Indonesia menurut KBK
a. Membaca sebagai alat untuk belajar (reading for learning)
b. Membaca sebagai tujuan belajar (learning to read)
c. Tata bahasa sebagai bahan yang diajarkan
d. Menulis sebagai sesuatu yang diajarkan.
SELAMAT BEKERJA!
LEMBAR JAWABAN
Nama: …………………………………………….
NIP.: ………………………………………………
Bidang Studi: ……………………………………..
Asal Sekolah: SD…………………………………
Kec………………………………..
Kab………………………………..
1. A B C D
2. A B C D
3. A B C D
4. A B C D
5. A B C D
6. A B C D
7. A B C D
8. A B C D
9. A B C D
10. A B C D
Nilai:………………

Wednesday, February 6, 2013

TRICK AGAR MODEM SMARTFREN TIDAK LELET



Di posting kali ini saya akan membagikan aplikasi cara meningkatkan kecepatan smart dengan software.

Software yang dipakai disini adalah Namebench 1.31, software ini akan mencarikan DNS yang paling efektif untuk koneksi teman2.

ok tanpa banyak gua basa-basi langsung saja loe - loe pade download softwarenya di  NAMEBENCH

1. extract filenya dan teman akan dibawa masuk pada program tersebut. software tsb mempunyai icon seperti ini 
 

2.dan tampilan seperti ini
 

3. pilih alexa sebagai Query data source, dan beri centang pada 2 option diatas. lalu start benchmark.
4.perkiraan lama waktunya adalah 30 menit sampai 1 jam, tergantung kecepatan koneks 

Saturday, February 2, 2013

MAKALAH FOTOSINTESIS



 BAB I
PENDAHULUAN

            1.  Latar Belakang
       Fotosintesis adalah peristiwa penyusunan (sintesis) zat organik (gula) dari zat anorganik (air dan karbon dioksida) dengan bantuan energi cahaya (foton) matahari. Dalam fotosintesis, dihasilkan glukosa (karbohidrat) dan oksigen. Hampir semua makhluk hidup bergantung pada hasil fotosintesis. Sehingga fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Organisme yang mampu menyusun senyawa organik dari senyawa anorganik  dinamakan organisme autrotof.
        Pada tahun 1778, Jan Ingenhousz, dokter kerajaan Austria, mengulangi eksperimen Priestley. Ia memperlihatkan bahwa cahaya matahari berpengaruh pada tumbuhan sehingga dapat "memulihkan" udara yang "rusak". Ia juga menemukan bahwa tumbuhan juga 'mengotori udara' pada keadaan gelap sehingga ia lalu menyarankan agar tumbuhan dikeluarkan dari rumah pada malam hari untuk mencegah kemungkinan meracuni penghuninya.

            2.  Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses terjadinya fotosintesis ?
2. Bagaimana pengaruh cahaya tampak pada proses fotosintesis ?
3. Bagaimana keadaan lingkungan setelah proses fotosintesis terjadi ?

            3.  Tujuan
1. Mengetahui pengertian fotosintesis.
2. Mengetahui bagaimana proses fotosintesis terjadi.
3. Mengetahui faktor-faktor pendukung proses fotosistesis.
4.  Mengetahui berapa hasil Oksigen dari hasil fotosintesis.

            4.   Manfaat
       1. Menambah informasi tentang terjadinya proses fotosintesis
       2. Memberikan informasi tentang bagaimana proses fotosintesis

                                                                      

BAB  II
PEMBAHASAN
            A. Pengertian Fotosintesis
      Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.

            B.   Sejarah Fotosintesis
       Meskipun masih ada langkah-langkah dalam fotosintesis yang belum dipahami, persamaan umum fotosintesis telah diketahui sejak tahun 1800-an. Pada awal tahun 1600-an, seorang dokter dan ahli kimia, Jan van Helmont, seorang Flandria (sekarang bagian dari Belgia), melakukan percobaan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan massa tumbuhan bertambah dari waktu ke waktu. Dari penelitiannya, Helmont menyimpulkan bahwa massa tumbuhan bertambah hanya karena pemberian air. Namun, pada tahun 1727, ahli botani Inggris, Stephen Hales berhipotesis bahwa pasti ada faktor lain selain air yang berperan. Ia mengemukakan bahwa sebagian makanan tumbuhan berasal dari atmosfer dan cahaya yang terlibat dalam proses tertentu. Pada saat itu belum diketahui bahwa udara mengandung unsur gas yang berlainan.
Pada tahun 1771, Joseph Priestley, seorang ahli kimia dan pendeta berkebangsaan Inggris, menemukan bahwa ketika ia menutup sebuah lilin menyala dengan sebuah toples terbalik, nyalanya akan mati sebelum lilinnya habis terbakar. Ia kemudian menemukan bila ia meletakkan tikus dalam toples terbalik bersama lilin, tikus itu akan mati lemas. Dari kedua percobaan itu, Priestley menyimpulkan bahwa nyala lilin telah "merusak" udara dalam toples itu dan menyebabkan matinya tikus. Ia kemudian menunjukkan bahwa udara yang telah “dirusak” oleh lilin tersebut dapat “dipulihkan” oleh tumbuhan. Ia juga menunjukkan bahwa tikus dapat tetap hidup dalam toples tertutup asalkan di dalamnya juga terdapat tumbuhan.
Pada tahun 1778, Jan Ingenhousz, dokter kerajaan Austria, mengulangi eksperimen Priestley. Ia memperlihatkan bahwa cahaya matahari berpengaruh pada tumbuhan sehingga dapat "memulihkan" udara yang "rusak". Ia juga menemukan bahwa tumbuhan juga 'mengotori udara' pada keadaan gelap sehingga ia lalu menyarankan agar tumbuhan dikeluarkan dari rumah pada malam hari untuk mencegah kemungkinan meracuni penghuninya. Akhirnya di tahun 1782, Jean Senebier, seorang pastor Perancis, menunjukkan bahwa udara yang “dipulihkan” dan “merusak” itu adalah karbon dioksida yang diserap oleh tumbuhan dalam fotosintesis. Tidak lama kemudian, Theodore de Saussure berhasil menunjukkan hubungan antara hipotesis Stephen Hale dengan percobaan-percobaan "pemulihan" udara.  Ia menemukan bahwa peningkatan massa tumbuhan bukan hanya karena penyerapan karbon dioksida, tetapi juga oleh pemberian air. Melalui serangkaian eksperimen inilah akhirnya para ahli berhasil menggambarkan persamaan umum dari fotosintesis yang menghasilkan makanan (seperti glukosa).

            C.  Pigmen
      Proses fotosintesis tidak dapat berlangsung pada setiap sel, tetapi hanya pada sel yang mengandung pigmen fotosintetik. Sel yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik ini tidak mampu melakukan proses fotosintesis. Pada percobaan Jan Ingenhousz, dapat diketahui bahwa intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis pada tumbuhan.  Hal ini dapat terjadi karena perbedaan energi yang dihasilkan oleh setiap spektrum cahaya. Di samping adanya perbedaan energi tersebut, faktor lain yang menjadi pembeda adalah kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya yang berbeda tersebut. Perbedaan kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis pigmen yang terkandung pada jaringan daun.
     Di dalam daun terdapat mesofil yang terdiri atas jaringan bunga karang dan jaringan pagar. Pada kedua jaringan ini, terdapat kloroplas yang mengandung pigmen hijau klorofil. Pigmen ini merupakan salah satu dari pigmen fotosintesis yang berperan penting dalam menyerap energi matahari.

     
      D.  Kloroplas
    Kloroplas terdapat pada semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau, termasuk batang dan buah yang belum matang. Di dalam kloroplas terdapat pigmen klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Kloroplas mempunyai bentuk seperti cakram dengan ruang yang disebut stroma. Stroma ini dibungkus oleh dua lapisan membran. Membran stroma ini disebut tilakoid, yang didalamnya terdapat ruang-ruang antar membran yang disebut lokuli.
Di dalam stroma juga terdapat lamela-lamela yang bertumpuk-tumpuk membentuk grana (kumpulan granum). Granum sendiri terdiri atas membran tilakoid yang merupakan tempat terjadinya reaksi terang dan ruang tilakoid yang merupakan ruang di antara membran tilakoid. Bila sebuah granum disayat maka akan dijumpai beberapa komponen seperti protein, klorofil a, klorofil b, karetonoid, dan lipid.Secara keseluruhan, stroma berisi protein, enzim, DNA, RNA, gula fosfat, ribosom, vitamin-vitamin, dan juga ion-ion logam seperti mangan (Mn), besi (Fe), maupun perak (Cu). Pigmen fotosintetik terdapat pada membran tilakoid. Sedangkan, pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam tilakoid dengan produk akhir berupa glukosa yang dibentuk di dalam stroma. Klorofil sendiri sebenarnya hanya merupakan sebagian dari perangkat dalam fotosintesis yang dikenal sebagai fotosistem.


      E.  Fotosintesis pada Alga dan Bakteri
        Alga terdiri dari alga multiseluler seperti ganggang hingga alga mikroskopik yang hanya terdiri dari satu sel. Meskipun alga tidak memiliki struktur sekompleks tumbuhan darat, fotosintesis pada keduanya terjadi dengan cara yang sama. Hanya saja karena alga memiliki berbagai jenis pigmen dalam kloroplasnya, maka panjang gelombang cahaya yang diserapnya pun lebih bervariasi. Semua alga menghasilkan oksigen dan kebanyakan bersifat autotrof. Hanya sebagian kecil saja yang bersifat heterotrof yang berarti bergantung pada materi yang dihasilkan oleh organisme lain.

      F.  Cahaya tampak
      Cahaya tampak sebagai radiasi elektromagnetik yang paling dikenal oleh kita dapat didefinisikan sebagai bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata manusia. Panjang gelombang cahaya tampak bervariasi, bergantung pada warnanya. Meskipun spektrum optik tidak ada batas yang jelas antara satu warna dengan warna lainnya, berikut perkiraan batas warna-warna spektrum :
Ungu: 380–450 nm, Biru: 450–500 nm, Hijau: 500–550 nm, Kuning: 550–600 nm, Jingga: 600–650 nm, Merah: 650–750 nm
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia penting dimana tanaman, ganggang dan beberapa bakteri memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan makanan.
Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida)
Reaksi terang terjadi pada grana (tunggal: granum), sedangkan reaksi gelap terjadi di dalam stroma.
REAKSI
PROSES
KOMPONEN
PRODUK
Reaksi terang
Energi tinggi digunakan untuk memecah air, reduksi NADP dan sintesis ATP
Cahaya dengan panjang gelombang tertentu dan klorofil p700 dan P680

Reaksi energi cahaya
Elektron dari molekul akseptor pada klorofil dikeluarkan dan diterima oleh aseptor elektron.
Protein, klorofil dan cahaya
Elektron
Transfer Elektron
Setiap elektron diangkut melalui rantai panjang oleh molekul akseptor\ elektron didalam membran tilakoid, reduksi NADP+ , pemecahan air. Beberapa H+ diakumulasikan dalam kompartemen tilakoid.
Elektorn, H2O dan NADP+
NADPH+O2+H++e-

Setiap H+ dipompa menyebrangi membran tilakoid, sementara itu proton tilakoid diangkut melawan gradien konsentrasi ke dalam tilakoid. Energi yang dilepaskan digunakan untuk sintesis ATP
Membran H+ gradien ADP dan P
ATP
Reaksi gelap berenergi
CO2 direduksi emnjadi senyawa karbon kompleks berebergi lebih tinggi
RUBP, CO2, ATP, NADPH
Senyum karbon bernenergi tinggi ADP+



a.       Reaksi terang
       Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini memerlukan molekul air. Proses diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena.
Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau ini akan dipantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau. Fotosintesis akan menghasilkan lebih banyak energi pada gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Hal ini karena panjang gelombang yang pendek menyimpan lebih banyak energi.
        Di dalam daun, cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusat-pusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I 700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat.
Fotosintesis dimulai ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuan pertukaran energi dalam sel. Reaksi ini menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen.
Oksigen dari proses fotosintesis hanya dihasilkan dari air, bukan dari karbon dioksida. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh C.B. van Neil yang mempelajari bakteri fotosintetik pada tahun 1930-an. Bakteri fotosintetik, selain sianobakteri, menggunakan tidak menghasilkan  oksigen karena menggunakan ionisasi sulfida atau hidrogen.
Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH.

b.      Reaksi gelap
      ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus Calvin yang mengikat karbon dioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap (tanpa cahaya). (Hardianto, 30: 2004).
Faktor pembatas tersebut dapat mencegah laju fotosintesis mencapai kondisi optimum meskipun kondisi lain untuk fotosintesis telah ditingkatkan, inilah sebabnya faktor-faktor pembatas tersebut sangat mempengaruhi laju fotosintesis yaitu dengan mengendalikan laju optimum fotosintesis. Selain itu, faktor-faktor seperti translokasi karbohidrat, umur daun, serta ketersediaan nutrisi mempengaruhi fungsi organ yang penting pada fotosintesis sehingga secara tidak langsung ikut mempengaruhi laju fotosintesis
Berikut adalah beberapa faktor utama yang menentukan laju fotosintesis :
  1. Intensitascahaya
    Laju fotosintesis
    maksimum ketika banyak cahaya.
  2. Konsentrasikarbondioksida
    Semakin banyak karbon dioksida di
    udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
  3. Suhu
    Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim.
  4. Kadarair
    Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan
    stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
  5. Kadarfotosintat(hasilfotosintesis)
    Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai
    jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
  6. Tahappertumbuhan
    Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak
    energi dan makanan untuk tumbuh.


















BAB III
                PENUTUP

Kesimpulan
      Berdasarkan hasil pengamata proses fotosintesis dan penjelasan singkatnya diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Fotosintesis melibatkan sinar matahari untuk memperoleh hasil yang sempurna
2.      Proses fotosintesis melalui dua tahap, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi terang menggunakan sinar matahri dan reaksi gelap hanya melibatkan proses kimiawi
3.      Hydrilla verticillata digunakan sebagai objek pengamatan karena tumbuhan ini adalah tumbuhan air yang berhubungan langsung dengan air
4.      Pada reaksi terang, jumlah gelembung yang dihasilkan lebih banyak daripada reaksi gelap. Hal ini dikarenakan reaksi yang terang berhubungan lansung dengan sinar matahari sehingga jumlah gelembung (O2) lebih banyak dihasilkan fotosintesis.
dapat disimpulkan bahwa dalam proses fotosintesa, yang diperlukan
  ü  Dala proses fotosintesa, bahan yang diperlukan adalah CO2 dan H2O.
  ü  Produk yang dihasilkan dari proses ini adalah glukosa dan O2
  ü  Proses fotosintesa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, cahaya, enzim, substrat, suhu














Daftar Pustaka

·         Campbell dan Reece. 2002 Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
·         Darmawan dan Baharsjah. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Jakarta : PT Gramedia.
·         Devlin, Robert M. 1975. Plant Physiology Third Edition. New York : D. Van Nostrand.
·         Dwijoseputro, D. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Jakarta : Gramedia.
·         Dwijoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tanaman. Jakarta : Gramedia.
·         Guttman, Burton S. Dan and John, W. Hopkins. 1983. Understanding Biology. New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
·         http//:www.wikipedia/fotosintesis
·         http//:jevuska.com/fotosintesis%makalah2010%/
·         http://linkpdf.com/pengaruh20%sungkup30%%pada-fotosintesis/